Bolehkah Wanita Menikah dalam Masa Iddah*

Bolehkah Wanita Menikah dalam Masa Iddah*

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab memisahkan Thalihah al-Asadiyyah dan Rasyid ats-Tsaqafi karena keduanya menikah saat Thalihah masih dalam masa iddah setelah berpisah dari suami sebelumnya.

masa iddah

Umar berkata, “Setiap perempuan yang menikah saat masih dalam masa iddahnya—sementara ia belum digauli oleh laki-laki barunya itu—maka keduanya harus segera dipisahkan. Dan si perempuan harus mengulang hitungan masa iddahnya dari suami sebelumnya mulai dari awal lagi. Saat iddahnya itu selesai, barulah si laki-laki baru boleh meminangnya.

Jika perempuan itu sudah terlanjur digauli oleh laki-laki barunya, maka keduanya harus segera dipisahkan dan si perempuan harus mengulang hitungan masa iddahnya dari suami sebelumya mulai awal lagi, ditambah iddah lagi dari laki-laki barunya. Kemudian perempuan itu tidak boleh dinikahi laki-laki baru itu selama-lamanya.”

Sa’id berkata, “Perempuan itu berhak mendapatkan mahar jika ia sudah digauli.”

*Dikutip dari sisipan ringkasan Kitab Bidayatul Mujtahid dalam Kitab Fiqih Sunnah Penerbit Madina Adipustaka.

Fiqih Sunnah Madina

Jadilah muslim sejati yang bukan saja sholeh tetapi juga memancarkan keimanan dan menjadi mutiara ilmu bagi keluarga dan umat.
Hadiahkanlah buku bermutu bagi pribadi Anda atau orang-orang yang Anda sayangi.

Informasi dan pemesanan hubungi:

Penerbit Madina Adipustaka
Telepon : (021) 87705740
Email : madina_adipustaka@yahoo.co.id
Find us on Facebook : http://www.facebook.com/madinaadipustaka
Follou us on Twitter : @penerbit_madina

Nazar: Definisi dan Pelaksanaannya

Definisi Nazar

Nazar adalah mewajibkan sesuatu yang pada dasarnya tidak wajib di dalam hukum syara. Contohnya seperti seseorang berkata, “Untuk Allah, wajib atasku bersedekah dengan jumlah sekian,” atau “Apabila Allah menyembuhkan penyakitku ini, maka wajib atasku berpuasa tiga hari.”

Nazar dianggap sah, jika diucapkan oleh seseorang yang sudah balig, berakal, memiliki kebebasan pilihan (dalam melakukannya), meskipun orang itu kafir.

 

Nazar Adalah Ibadah Kaum Terdahulu

Allah swt. menuturkan kisah tentang Ummi Maryam saat perempuan ini bernazar akan janin yang berada di perutnya,

(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang ada dalam kandunganku (kelas) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui.(QS. ‘Âli ‘Imrân [3]: 35)

Dan Allah memerintah Maryam untuk bernazar. Allah pun berfirman,

Maka jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun hari ini.’(Q.S. Maryam [19]: 26)

 

Disyariatkannya Nazar dalam Islam

Nazar disyariatkan berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah. Allah berfirman di dalam Al-Qur`an,

Dan apa pun infak yang kamu berikan atau nazar yang kamu janjikan, maka sungguh, Allah mengetahuinya. Dan bagi orang zalim, tidak ada seorang penolong pun.(QS. al-Baqarah [2]: 270)

Allah juga berfirman,

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan thawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).” (QS. al-Hajj [22]: 29)

”Mereka memenuhi nazar, dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Insân [76]: 7)

Di dalam sunnah, Rasul saw. bersabda,

“Barangsiapa bernazar untuk mentaati Allah, maka hendaklah ia menaati-Nya. Dan barangsiapa bernazar untuk mendurhakai Allah, janganlah ia mendurhakai-Nya.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa`i)

Meskipun Islam telah mensyariatkan nazar, namun tidak menganjurkannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar, Nabi saw. pernah melarang nazar. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya nazar tidak mendatangkan kebaikan. Hanya saja, kebaikan dapat dikeluarkan melalui nazar oleh orang-orang yang bakhil.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Sah-Tidaknya Nazar

Nazar dianggap sah dan berlaku apabila merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.. Nazar yang semacam ini wajib ditepati. Dan nazar tidak sah apabila seseorang bernazar untuk berbuat maksiat terhadap Allah. Nazar semacam ini tidak berlaku, seperti misalnya nazar kepada kuburan, atau nazar kepada para pelaku maksiat, demikian juga nazar untuk minum khamar, membunuh, meninggalkan shalat, atau menyakiti orang tua, maka nazar yang semacam itu semua tidak wajib ditepati, bahkan haram untuk melakukan hal-hal tersebut. Terhadap seorang yang tidak menepati nazar ini, tidak dikenakan kafarat karena nazarnya dianggap tidak berlaku. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw.,

“Tidak ada nazar dalam hal (melakukan) perbuatan maksiat.”


Dapatkan pembahasan lebih lanjut mengenai Nazar dan ibadah-ibadah lainnya di buku terbaru Penerbit Madina Adipustaka:
Penerbit Madina Adipustaka
Kompleks Pondok Duta I
Jln. Duta VI No. 10
Cimanggis Depok
Telp : (021) 8770 5740

Bid’ah Haqiqiyah dan Bid’ah Idhafiyah

Secara garis besar, bid’ah dibagi menjadi dua. Bid’ah haqiqiyah dan bid’ah idhafiyah. Imam Syathibi menjelaskan dua macam bid’ah ini. Ia mengatakan,

“Sesungguhnya bid’ah haqiqiyah adalah bid’ah yang tidak ada dalil syara’nya, baik dari Kitabullah, Sunnah, ijma’, qiyas, maupun istidlal yang dijadikan dasar oleh para ulama, baik secara global maupun terperinci. Karena itulah, dia dikatakan bid’ah, sebagaimana yang telah disebutkan, karena dia adalah sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya.”[1]

Contoh bid’ah haqiqiyah adalah paham qadariyah, tahsin dan taqbih berdasarkan akal murni, mengingkari hadits ahad, mengingkari ijma’, mengingkari pengharaman khamar, paham imam maksum (Syiah), dan sejenisnya.

Tentang bid’ah idhafiyah, Imam Syathibi menjelaskan,

“Adapun bid’ah idhafiyah adalah bid’ah yang memiliki dua sisi. Satu sisi, dia memiliki dalil. Dilihat dari sini, dia tidak termasuk bid’ah. Sisi yang lain, dia tidak memiliki dalil kecuali seperti apa yang dialami bid’ah haqiqiyah (tidak ada dalilnya). Inilah yang disebut dengan bid’ah idhafiyah. Dengan kata lain, dipandang dari satu segi, dia tergolong Sunnah karena bersandar kepada suatu dalil. Dan dipandang dari segi yang lain, dia tergolong bid’ah, karena dia bersandar kepada syubhat, bukan kepada dalil atau tidak bersandar kepada sesuatu apapun.”[2]

Contoh-Contoh Bid’ah Idhafiyah

1. Shalat Raghaib dan Shalat Nisfu Sya’ban.

Shalat Raghaib adalah shalat dua belas rakaat yang dilakukan antara waktu Magrib dan Isya pada malam Jumat pertama bulan Rajab. Dilihat dari satu segi, shalat ini tidak bid’ah shalat adalah perbuatan yang baik yang ada dasarnya. Dilihat dari sisi yang lain, yakni penentuan waktu dan caranya dia termasuk bid’ah penentuan waktu dan cara shalat ini tidak ada dasarnya.

Imam Nawawi mengatakan dalam al-Majmu’ (4/56),

اَلصَّلاَةُ الْمَعْرُوْفَةُ بِصَلاَةِ الرَّغَائِبِ وَهِيَ ثِنْتَى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّي بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمْعَةَ فِي رَجَبَ وَصَلاَةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةَ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلاَتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيْحَتَانِ وَلاَ يَغْتَرْ بِذِكْرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوْتِ الْقُلُوْبِ وَاِحْيَاءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَلاَ بِالْحَدِيْثِ الْمَذْكُوْرِ فِيْهِمَا فَاِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ

Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib, yaitu shalat dua belas rakaat yang dilaksanakan antara shalat Maghrib dan shalat Isya pada malam pertama bulan Rajab dan shalat malam Nisfu Sya’ban dengan seratus rakaat, dua shalat ini bid’ah dan mungkar yang buruk. Janganlah seseorang tertipu karena kedua shalat ini disebutkan dalam kitab Quth al-Qulub (karya Abu Thalib Makki) dan kitab Ihya Ulumiddin (karya al-Ghazali) dan jangan tertipu dengan hadits yang tersebut dalam dua kitab tadi. Sesungguhnya semua itu batil.”

2. Membaca shalawat sebelum dan sesudah adzan.

Membaca shalawat adalah perbuatan Sunnah karena ada dalilnya dari Al-Qur`an dan hadits. Namun, dilihat dari segi pelaksanaannya sebelum adzan dan sesudah adzan dengan suara keras termasuk bid’ah idhafiyah. Syaikh Ibnu Hajar mengatakan dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra (1/473),

وَلَقَدْ اُسْتُفْتِيَ مَشَايِخُنَا وَغَيْرُهُمْ فِي الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْأَذَانِ عَلَى الْكَيْفِيَّةِ الَّتِي يَفْعَلُهَا الْمُؤَذِّنُونَ فَأَفْتَوْا بِأَنَّ الْأَصْلَ سُنَّةٌ وَالْكَيْفِيَّةُ بِدْعَةٌ وَهُوَ ظَاهِرٌ كَمَا عُلِمَ مِمَّا قَرَّرْته مِنْ الْأَحَادِيثِ

“Para syaikh kita dan lainnya telah ditanya tentang shalawat dan salam atas Nabi setelah adzan dengan kaifiyah yang dilakukan pada muadzin. Mereka memberikan fatwa bahwa hukum asalnya sunnah dan kaifiyahnya bid’ah. Hal ini adalah jelas sebagaimana yang telah saya tetapkan dalam menjelaskan hadits-hadits.”

3. Menambahi bacaan shalawat dalam dzikir bersin.

Dzikir yang disunnahkan ketika seseorang mengalami bersin adalah membaca hamdalah. Namun, apabila dzikir ini ditambahi shalawat dan salam, termasuk bid’ah idhafiyah, sebagaimana yang dihukumi Ibnu Umar ra. dan Imam Suyuthi. Imam Suyuthi mengatakan dalam al-Hawi li al-Fatawi (hlm. 373),

لِأَنَّ الْعُطَاسَ وَرَدِ فِيْهِ ذِكْرٌ يَخُصُّهُ فَالْعُدُوْلُ إِلَى غَيْرِهِ أَوِ الزِّيَادَةُ فِيْهِ عُدُوْلٌ عَنِ الْمَشْرُوْعِ وَزِيَادَةٌ عَلَيْهِ وَذَلِكَ بِدْعَةٌ وَمَذْمُوْمٌ فَلَمَّا كَانَ الْوَارِدُ فِي الْعُطَاسِ الْحَمْدُ فَقَطْ كَانَ ضَمُّ السَّلاَمِ إِلَيْهِ مِنَ الزِّيَادَةِ فِي الْأَذْكَارِ وَذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَى ذَمِّهِ وَقَدْ نَهَى الْفُقَهَاءُ عَنِ الصَّلاَةِ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبْحِ لِأَنَّهُ زِيَادَةٌ عَلَى مَا وَرَدَ مِنَ التَّسْمِيَةِ

“Karena sesungguhnya bersin telah ada dzikirnya yang khusus. Maka berpindah darinya kepada yang lain atau menambahinya adalah pindah dari yang disyariatkan dan menambah-nambahinya. Hal ini merupakan bid’ah dan tercela. Karena di dalam bersin yang disyariatkan hanya membaca hamdalah, maka menambahinya dengan membaca salam kepada beliau adalah menambahi dzikir. Hal ini telah disepakati sebagai perbuatan yang tecela. Para ahli fiqih melarang penambahan shalawat ketika menyembelih karena menambahi apa yang telah disyariatkan berupa membaca basmalah.”

4. Adzan jenazah.

Dilihat dari satu segi adzan jenazah itu perbuatan yang baik karena dia adalah dzikir yang diperintahkan. Namun, dilihat dari segi penentuan waktu dan tempat, yakni dilakukan ketika akan memakamkan jenazah adalah bid’ah idhafiyah karena tidak ada dalilnya dan tidak pernah dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat. Syaikh Ibnu Hajar ketika ditanya tentang adzan dan iqamat jenazah mengatakan dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra (3/166),

هُوَ بِدْعَةٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ سُنَّةٌ عِنْدَ نُزُولِ الْقَبْرِ قِيَاسًا عَلَى نَدْبِهِمَا فِي الْمَوْلُودِ إلْحَاقًا لِخَاتِمَةِ الْأَمْرِ بِابْتِدَائِهِ فَلَمْ يُصِبْ وَأَيُّ جَامِعٍ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَمُجَرَّدُ أَنَّ ذَاكَ فِي الِابْتِدَاءِ وَهَذَا فِي الِانْتِهَاءِ لَا يَقْتَضِي لُحُوقَهُ بِهِ

“Adzan dan iqamah saat pemakaman adalah bid’ah. Barangsiapa yang menyangka bahwa adzan dan iqamah itu sunnah saat pemakaman karena diqiyaskan dengan sunnahnya adzan dan iqamah terhadap bayi yang baru lahir karena masuk ke kubur itu akhir kehidupan dan keluarnya bayi dari ibunya itu awal kehidupan bukanlah orang yang benar. Apa yang menyamakan antara keduanya? Sesungguhnya hanya sekadar itu awal dan ini akhir tidak harus memiliki persamaan (tidak menjadi alasan qiyas).”

Demikian penjelasan mengenai bid’ah haqiqiyah dan bid’ah idhafiyah beserta contoh-contohnya. (M. Abidun Zuhri)

http://abidun.com/bidah-haqiqiyah-dan-bidah-idhafiyah/

Haid dan Nifas

Haid dan nifas termasuk dalam kondisi yang membatalkan puasa, meskipun keduanya terjadi pada saat terakhir menjelang masuknya waktu buka puasa. Artinya, apabila seorang wanita mengalami haid atau nifas pada saat tersebut, maka puasanya pada
hari itu batal dan dia wajib meng qadhanya pada hari lain. Yang demikian ini adalah ijmak’ (kesepakatan) para ulama.

Catatan:

• Apabila seorang wanita tiba-tiba mengalami haid di tengah siang hari, puasanya batal dan dia tidak perlu melanjutkannya sampai magrib.
• Apabila seorang wanita mengalami haid pada bulan Ramadhan dan suci dari haid pada siang hari, maka ia boleh makan dan minum. Kemudian, seandainya suaminya baru saja pulang dari suatu perjalanan jauh dan berpuasa, maka ia dan suaminya dibolehkan bersetubuh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
• Jika masa haidnya telah berakhir sebelum fajar dan dia berniat puasa, maka puasanya sah, meskipun dia baru mandi besar setelah terbitnya fajar.
Demikianlah jumhur ulama berpendapat.

Madina Adipustaka hadir lebih dekat di Islamic Book Fair 2012

Alhamdulillah, dengan mengucapkan puja serta syukur ke hadirat Allah swt, buku Fiqih Sunnah Wanita terbitan Madina Adipustaka telah memasuki cetakan kedua.

Untuk memenuhi kebutuhan umat dan lebih menjangkau seluruh masyarakat, buku Fiqih Sunnah Wanita bisa didapatkan di Islamic Book Fair yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, tanggal 9 sampai 18 Maret 2012. Kunjungi stan Penerbit Alfatih dan stan Mimbar Plus untuk mendapatkan buku Fiqih Sunnah Wanita dengan diskon khusus.

fiqih sunnah wanita

Penerbit Madina Adipustaka

Kompleks Pondok Duta I

Jln. Duta VI No. 10

Cimanggis, Depok, 16951

Telepon: (021) 8770 5740

Faks : (021) 87705762

Email: madina_adipustaka@yahoo.co.id

FB: http://www.facebook.com/madinaadipustaka

http://www.penerbitmadina.wordpress.com

Syarat yang Tidak Boleh Dipenuhi Menjelang Akad Nikah

Syarat yang tidak boleh dipenuhi menjelang akad nikah yaitu, syarat-syarat yang bertentangan dengan maksud dan tujuan akad nikah, berseberangan hukum, dan bertolak belakang dengan aturan syariat.

Syarat-syarat ini tidak sah dan tidak boleh diajukan dalam akad nikah. Misalnya, syarat yang diajukan oleh seorang istri kepada suaminya agar ia menceraikan istrinya yang lain. Tidak bolehnya mengajukan dan menetapkan syarat seperti itu adalah karena Rasulullah saw. telah bersabda,

“Seorang wanita tidak boleh meminta calon suaminya menceraikan istrinya yang lain hanya untuk menggantikan posisinya. Ia hanya berhak memiliki apa yang menjadi haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh lain yang termasuk syarat yang tidak dibolehkan diajukan oleh seorang calon istri kepada calon suaminya adalah agar setelah menikah keduanya tidak melakukan persetubuhan.

Berdasarkan ijmak ulama, syarat seperti ini tidak boleh diajukan dan dipenuhi.

Contoh lain lagi yang termasuk syarat yang diharamkan adalah syarat-syarat yang yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan Sunnah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah saw.,

“Syarat apa pun yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an, maka syarat tersebut batal, meskipun syarat itu berjumlah seratus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Persyaratan-persyaratan seperti ini tidak sah menurut kesepakatan ulama.

Bila demikian, bagaimanakah hukum akad nikah yang di dalamnya terdapat syarat-syarat yang terlarang tersebut?

Sebagian ulama berpendapat, bahwa akad nikah tersebut batal. Beberapa ulama lain berpendapat, apabila persyaratan itu tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pernikahan—seperti syarat agar calon suami menceraikan istrinya yang pertama setelah menikah, atau syarat agar ia tidak disetubuhi, dan sebagainya—maka akad nikah tersebut tidak sah.

Adapun bila persyaratan itu tidak bertentangan dengan tujuan akad nikah, tetapi persyaratan itu diharamkan, maka syarat tersebut batal, tetapi akad nikahnya tetap sah.

Pendapat terakhir ini adalah pendapat dari para ulama mazhab Syafi’iyah dan Hambali. Pendapat ini pula yang menurut saya lebih lebih kuat dari sisi dalil-dalilnya. Wallahu a’lam.

* * *

Dikutip dari buku Fiqih Sunnah Wanita

Karya Ust. Abu Malik Kamal ibnu asy-Sayyid Salim

Penerbit Madina Adipustaka

* * *

Jadilah muslimah sejati yang bukan saja sholehah tetapi juga memancarkan keimanan dan menjadi mutiara ilmu bagi keluarga dan umat. Hadiahkanlah buku bermutu bagi pribadi Anda atau orang-orang yang Anda sayangi.
fiqih sunnah wanita penerbit madina

Informasi dan pemesanan hubungi toko-toko buku dan distributor kami di kota Anda atau hubungi

Penerbit Madina Adipustaka

Telepon : (021) 87705740

SMS Center : 0858 14 MADINA (623462).

Find us on Facebook : www.facebook.com/madinaadipustaka

Follou us on Twitter : @penerbit_madina

Persiapan Shalat Jumat

1. Mandi

Mandi sebelum menghadiri shalat jumat itu hukumnya sunnah. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw.,

“Apabila salah seorang dari kalian ingin melaksanakan shalat jumat, hendaklah dia mandi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sementara itu, Imam Malik pernah menerangkan, “Seorang budak, kaum wanita, dan anak kecil tidak wajib melaksanakan shalat jumat. Tetapi, jika mereka ingin melaksanakannya, maka hendaklah mereka mandi.”

Catatan:

Bila engkau ingin mandi sunnah sebelum shalat jumat, engkau boleh melakukannya setelah fajar terbit pada pagi hari tersebut. Jika engkau sudah mandi pada pagi hari tersebut, kemudian sebelum masuk waktu shalat jumat engkau berhadats kecil, maka engkau cukup berwudhu. Artinya, mandi sunnah hari Jumatmu tetap sah dan temasuk amalan sunnah.

Diriwayatkan, Abdurrahman ibnu Abza—salah seorang sahabat—pernah berhadats setelah mandi pada hari Jumat. Maka dia berwudhu dan tidak mandi lagi. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazzaq)

Jika engkau junub pada pagi hari Jumat, Baca lebih lanjut