Hukum Pernikahan

Menikah termasuk salah satu sunnah-sunnah yang paling dianjurkan.
Dan merupakan sunnah para rasul dari dahulu kala, yaitu sebagaimana dipaparkan oleh Allah swt. ketika berfirman,

“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan….” (QS. ar-Ra’d [13]: 38)

Berdasarkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang berisi anjuran kepada umat Islam menikah seperti yang telah sebutkan di awal tadi, jumhur ulama berpendapat bahwa menikah itu hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan. Namun, menikah juga bisa menjadi
wajib bagi siapa saja yang mampu melakukannya dan ia khawatir dirinya akan terjerumus ke dalam perbuatan zina yang diharamkan.

Dan seperti dimaklumi, sesuatu yang haram yang dapat dihalangi dengan sesuatu yang halal. Singkat kata, bila zina yang haram itu hanya bisa dihindari dengan menikah, maka menikah pun menjadi wajib hukumnya.

Ada pendapat bahwa wanita itu tidak wajib menikah.1 Di antara dalil-dalil yang digunakan untuk menunjukkan hal itu adalah firman Allah swt. berikut ini,

“Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi)….” (QS. an-Nur [24]: 60)

Pada satu riwayat, Abu Sa’id juga pernah mengabarkan, Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw. dengan membawa anak gadisnya.
Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, anak wanitaku ini tidak mau dinikahkan.” Maka Rasulullah berkata kepada anak wanita itu, “Patuhilah perintah ayahmu!”
Namun, gadis itu berkata, “Aku tidak mau dinikahkan hingga engkau memberitahuku tentang kewajiban seorang istri terhadap suaminya.”
la mengulang permintaannya itu beberapa kali.

“Kewajiban seorang istri terhadap suaminya sedemikian rupa hingga apabila ia mengusap luka yang terdapat pada tubuh suaminya
atau darah dan nanah yang mengalir dari lubang hidungnya; semua itu tetap tidak memadai untuk memenuhi hak suaminya tersebut.”

Mendengar itu, sang gadis berkata, ‘Demi Zat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku sungguh tidak akan menikah selamanya.’
Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Jangan kau nikahkan para wanita kecuali dengan izin mereka.'” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Hadits di atas mengisyaratkan diperbolehkannya seseorang untuk tidak menikah karena suatu uzur, selama hal itu tidak menyebabkan perbuatan keji.
Meskipun demikian halnya, adalah lebih utama bagi seorang wanita untuk menikah.
Yang demikian ini, karena pernikahan memiliki banyak manfaat dan keutamaan…..

Dikutip dari buku Fiqih Sunnah Wanita karya Abu Malik Kamal, bab “Pernikahan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s