Resepsi Pernikahan (Walîmatul-‘Urs) Catatan dari The Royal Wedding Ibas & Aliya…

Pernikahan selalu saja menjadi momen besar, sakral, dan tak terlupakan bagi siapa pun. Namun adakah kita telah mengetahui bagaimana tata cara perayaan pernikahan dalam pandangan Islam. Berikut ulasannya.

1. Pengertian Walimah

Walimah adalah sebutan untuk makanan atau minuman yang disuguhkan khusus dalam sebuah pesta atau resepsi pernikahan.

2. Hukum Walimah

Walimah itu hukumnya sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Artinya, bagi orang yang menikah sangat dianjurkan untuk mengadakan resepsi dan jamuan sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah saw. sendiri telah mengadakan walimah ini untuk istri-istri beliau dan juga menganjurkan kepada para sahabat untuk mengadakannya. Dalam satu riwayat, Anas menuturkan, “Pada suatu pagi, Rasulullah saw. menjadi pengantin dengan Zainab binti Jahsyin. Kemudian, beliau mengundang orang-orang, lalu mereka menyantap suguhan makanan dan setelah itu mereka pulang….” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa`i)

Rasulullah saw. juga pernah bersabda kepada Abdurrahman ibnu Auf ketika ia menikah,

“Adakanlah walimah (resepsi), walaupun hanya dengan (memotong) seekor kambing.” (HR. Bukhari)

Satu ekor kambing dalam hadits di atas bukanlah jumlah minimal makanan yang harus dihidangkan dalam walimah. Sebab, pada hakikatnya walimah itu tetap harus diselenggarakan sesuai dengan kemampuan mempelai. Telah diriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw. mengadakan walimah atas pernikahannya dengan Shafiyyah hanya dengan menyuguhkan hays, yaitu sejenis makanan yang terbuat dari campuran kurma dengan susu yang dikeringkan, atau dengan tepung, atau dengan gandum.

3. Waktu Pelaksanaan Walimah

Kapankah walimah boleh diselenggarakan? Apakah bersamaan dengan akad ataukah setelahnya? Apakah sebelum terjadi persetubuhan ataukah setelahnya? Walimah boleh dilangsungkan sebelum terjadi persetubuhan dan boleh juga setelahnya. Tetapi, sebaiknya walimah itu tidak diselenggarakan bersamaan dengan akad nikah. Dasarnya adalah hadits yang menceritakan walimah Rasulullah ketika beliau menikah dengan Zainab binti Jahsy sebagaimana telah kita baca bersama-sama di bab sebelum ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa walimah boleh dilaksanakan kapan saja, asal setelah akad nikah selesai.

4. Undangan Walimah

Bagi orang yang menikah disunnahkan untuk mengundang orang-orang saleh, baik yang miskin maupun yang kaya, dalam acara walimah pernikahannya. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin! Dan janganlah makananmu dimakan oleh selain orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Bahkan, untuk kaum fakir dan miskin tersebut, kita disunnahkan untuk menyediakan bagian yang khusus untuk mereka agar jangan ada yang tidak kebagian. Artinya, mereka pun seyogyanya lebih diutamakan dalam acara walimah. Tentang hal ini, Abu Hurairah berkata, “Seburuk-buruk makanan adalah makanan yang disuguhkan dalam sebuah walimah pernikahan yang hanya dihadiri oleh orang-orang kaya dan tidak dihadiri oleh orang-orang fakir. Barangsiapa tidak menghadiri undangan walimah, maka ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Hukum Menghadiri Undangan Walimah

Sesuai dengan pendapat jumhur ulama, hukum memenuhi undangan walimah pernikahan adalah wajib kecuali jika ada uzur. Dalil-dalil mereka untuk menguatkan pendapatnya itu adalah sebagai berikut.

a. Riwayat Ibnu Umar dari Rasulullah saw. “Jika salah seorang dari kalian diundang dalam walimah, maka hendaklah ia menghadirinya.” (HR. Bukhari)

b. Ucapan Abu Hurairah yang berbunyi, “…Barangsiapa tidak menghadiri undangan walimah, maka ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Wajibnya menghadiri undangan walimah ini tidak hanya berlaku untuk kaum laki-laki, tetapi juga untuk kaum wanita, kecuali jika dalam walimah tersebut terjadi ikhtilaht (percampuran) antara kaum laki-laki dan perempuan secara bebas. Bila keadaannya seperti ini, maka kaum wanita boleh tidak menghadirinya.

6. Mendapat Undangan Walimah saat Berpuasa

Sunnah Bagi siapa saja—laki-laki maupun wanita—yang mendapat undangan walimah dan ia berpuasa pada hari itu, hendaknya ia tetap menghadirinya. Adapun terhadap hidangan walimah yang disajikan, maka boleh mempertimbangkan kedua hal berikut:

o Apabila seseorang sedang mengerjakan puasa sunnah pada hari itu dan ia rela untuk membatalkannya, maka ia boleh menikmati hidangan tersebut bersama tamu undangan yang lain.

o Tetap berpuasa dan mendoakan orang yang mengundangnya atau yang menyelenggarakan walimah tersebut. Dalil dari hal-hal itu adalah; Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang kalian mendapat undangan jamuan makan, hendaklah ia menghadirinya. Jika dia mau, dia boleh makan. Dan jika tidak, dia boleh tidak makan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Dituturkan, Rasulullah saw. juga bersabda, “Jika seseorang di antara kalian diundang makan, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia tidak berpuasa, maka ia boleh makan hidangannya. Jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mendoakan (orang yang mengundangnya).” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Baihaqi)

7. Kapankah tidak Menghadiri Undangan Walimah Diperbolehkan?

Seperti telah dijelaskan, kewajiban menghadiri walimah berlaku jika tidak ada halangan atau udzur. Berikut ini adalah halangan-halangan yang boleh menjadi alasan seseorang untuk tidak menghadiri undangan walimah.

a. Bila di dalam walimah terdapat kemungkaran-kemungkaran. Apabila seseorang diundang untuk menghadiri suatu acara walimah yang di dalamnya terdapat pelbagai kemungkaran; seperti minuman keras, alat musik, tari-tarian, dan lain sebagainya, hendaknya ia tidak menghadirinya kecuali dengan niat untuk menasihati dan mengingatkan pelakunya. Bila ia hadir dengan niat dan tujuan tersebut, namun pelaku kemungkaran itu tetap tidak mau mendengarkan peringatannya, hendaklah ia pulang ke rumahnya. Salah satu dalilnya adalah sebuah hadits yang mengisahkan bahwa Ali ibnu Abi Thalib pernah mengadakan sebuah jamuan dan mengundang Rasulullah saw. Maka beliau pun hadir. Tetapi ketika beliau saw. melihat di rumah Ali terdapat beberapa gambar, beliau pun segera pulang. Disebutkan, maka Ali bertanya, “Wahai Rasulullah! Mengapa engkau pulang?” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya di rumahmu terdapat tirai yang bergambar. Dan Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Ya’la)

b. Bila yang diundang hanya orang-orang kaya saja dan tidak ada orang-orang fakir dan miskinnya.

c. Bila orang yang mengundang dikenal sebagai orang yang biasa memakan makanan-makanan haram atau biasa melakukan hal-hal yang syubhat.

d. Udzur-udzur syar’i lain yang menyebabkan seseorang boleh meninggalkan suatu kewajiban. Misalnya udzur-udzur yang membolehkan seseorang untuk tidak menghadiri shalat jumat, seperti hujan deras, jalan yang berlumpur, situasi yang tidak aman, dan serangan musuh.

8. Hukum Mempelai Wanita Menjamu Tamu-Tamu Suaminya

Asal hukumnya, mempelai wanita boleh ikut menjamu tamu-tamu suaminya. Sahl ibnu Sa’d meriwayatkan, “Aby Usaid as-Sa’idi mengundang Rasulullah saw. untuk menghadiri upacara pernikahannya. Dan ternyata, mempelai wanita sendiri sibuk melayani dan menjamu para tamu, padahal ia adalah pengantin. Sahl berkata, ‘Tahukah kalian, minuman apakah yang disuguhkan oleh istriku kepada Rasulullah? la telah merendam kurma sejak semalam sebelumnya. Maka ketika Rasulullah saw. selesai makan, ia memberikan air rendaman kurma itu kepada beliau.'” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Atas dasar itu, penulis berkesimpulan, “Hal itu boleh dilakukan jika aman dari fitnah. Wallahu a’lam”

9. Doa dan Ucapan Selamat untuk Pengantin

Mengucapkan selamat kepada sesama muslim yang memperoleh kebaikan itu dianjurkan. Karena hal itu merupakan salah satu wujud keindahan syariat Islam. Lain daripada itu, Islam juga menganjurkan seorang muslim untuk mendoakan saudaranya yang mendapat kebaikan tersebut agar senantiasa diberkahi dan selalu memperoleh nikmat Allah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw. selalu mendoakan sepasang suami istri agar keduanya diberkahi, diberi taufik, serta berhasil membina keluarga yang sejahtera dan penuh rahmat selamanya.

10. Ucapan untuk Dua Mempelai

Ucapan seperti apakah yang sebaiknya diucapkan kepada sepasang mempelai? Abu Hurairah meriwayatkan, Setiap kali Rasulullah saw. menghadiri pernikahan seseorang, beliau selalu berdoa,

“Barakallahu laka wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fi khair—Semoga Allah memberkahimu dalam segala sesuatu dan semoga Dia menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dalam hadits lain, Aisyah menuturkan, “Rasulullah saw. menikahiku. Saat itu, ibuku mendatangiku dan memasukkanku ke dalam sebuah rumah. Ternyata di dalam rumah itu terdapat wanita-wanita Anshar. Mereka berkata, “Alal-khair wal-barakah, wa ‘alâ khairi thâ`ir — ‘Semoga engkau selalu mendapat limpahan kebaikan dan keberkahan, dan mendapat peruntungan yang baik. ‘” (HR. Bukhari)

Demikianlah, meskipun diperbolehkan hendaknya kita hanya mengucapkan ucapan-ucapan selamat yang dibolehkan dan tidak bertentangan dengan syariat. Dan ingatlah, jangan sampai kita meniru ucapan-ucapan jahiliah seperti “Semoga rukun dan cepat dikaruniai banyak anak.” sebagaimana telah dijelaskan di atas.

11. Disunnahkan Memberi Kado atau Hadiah kepada Kedua Mempelai

Hal ini disunnahkan karena, Anas r.a. meriwayatkan, “Ketika Rasulullah saw. menikah dengan Zainab, Ummu Sulaim memberikan hadiah sejenis makanan dari kurma dan tepung yang diletakkan di wadah yang terbuat dari batu.” (HR. Muslim)

* * *

Jadilah muslimah sejati yang bukan saja sholehah tetapi juga memancarkan keimanan dan menjadi mutiara ilmu bagi keluarga dan umat.

Hadiahkanlah buku bermutu bagi pribadi Anda atau orang-orang yang Anda sayangi.

 

Dikutip dari buku Fiqih Sunnah Wanita karya Abu Malik Kamal

Informasi dan pemesanan hubungi:

Penerbit Madina Adipustaka

Telepon : (021) 87705740

SMS Center : 0858 14 MADINA (623462).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s