Pernikahan yang Berkah

 Oleh M Fuad Nasar MSc

Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan yang paling besar mendatangkan berkah Allah untuk suaminya adalah yang paling ringan maharnya.” (HR Ahmad, Hakim, dan Baihaqi).

Dalam riwayat lain diungkapkan, “Sesungguhnya pernikahan yang paling berkah ialah yang sederhana belanjanya.” (HR Ahmad).


Dalam hukum munakahat (perkawinan Muslim) ditetapkan pemberian mahar (maskawin) dari suami kepada istrinya adalah wajib bagi sebuah pernikahan. Kendati agama tidak menentukan nilai mahar, tidak seyogianya bertolak belakang dengan prinsip Islam yang mempermudah pernikahan sebagai dasar pembentukan rumah tangga.
Mempermudah pernikahan berarti menutup pintu perzinaan yang dilarang keras dalam Islam. Pernikahan juga merupakan cara Islam untuk mencegah timbulnya berbagai penyimpangan seksual sebagai penyakit masyarakat yang harus dibasmi.

Islam mengoreksi adat jahiliah bangsa Arab yang berlebihan dalam menetapkan mahar. Mahar yang tinggi seringkali menjadi barrier bagi pernikahan. Akibatnya, banyak perkawinan yang tak dapat dilangsungkan karena ketidaksanggupan memenuhi tuntutan mahar yang tinggi dari pihak perempuan. Hal itu jelas menyalahi kehendak agama dan kemanusiaan.
Nabi menganjurkan memberi mahar walaupun berbentuk cincin besi. Sebab, mahar bukanlah simbol nilai perempuan dalam perkawinan, tetapi  simbol kewajiban suami akan memberi nafkah kepada istrinya.

Dr M Sayyid Ahmad Al-Musayyar, guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo, menyatakan, “Kami menyeru kepada seluruh pemimpin, agar mempermudah pernikahan sehingga kehormatan para pemuda dan pemudi akan terjaga dengan baik. Dengan menikah, mereka akan terbebas dari perangkap setan. Mahar yang paling murah adalah mahar yang paling banyak berkahnya bagi seorang wanita.”

Pernikahan merupakan peristiwa yang patut disambut dengan rasa syukur dan gembira. Oleh karena itu, pernikahan dirayakan dengan perhelatan atau walimah. Imam Ahmad meriwayatkan ketika Ali bin Abi Thalib meminang Fathimah, putri Nabi SAW, Rasul berkata, “Perkawinan mesti dirayakan dengan walimah.”

Walimah ada etikanya. Walimah bukan ajang pamer kebanggaan, status, dan kemewahan. Ia harus disesuaikan dengan keadaan lingkungan di sekitarnya. Menurut hadis Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, seburuk-buruk pesta atau walimah adalah yang hanya mengundang orang-orang kaya, sedangkan orang-orang fakir dan miskin tidak diundang. Bandingkan etika yang diajarkan agama dengan fenomena pada sebagian kalangan masyarakat yang suka menggelar pesta pernikahan yang mewah dan berlebihan.

Sebuah ironi di masyarakat, tidak sedikit kasus suami istri terlibat dalam percekcokan dan perselisihan berselang beberapa waktu dari acara pernikahan yang mewah dan meriah. Sangat tepat pandangan agama tentang pernikahan yang berkah tidak dapat “dibeli” dengan resepsi yang mahal. Pernikahan yang berkah harus diupayakan sendiri oleh suami istri yang bersangkutan. Dalam kaitan ini, peranan agama tidak dapat diabaikan dalam rumah tangga yang menginginkan keberkahan. Tiada kebahagiaan dan keberkahan jika agama disia-siakan dalam kehidupan rumah tangga. Wallahu a’lam.

a repost from: http://koran.republika.co.id/koran/25

* * *

Jadilah muslimah sejati yang bukan saja sholehah tetapi juga memancarkan keimanan dan menjadi mutiara ilmu bagi keluarga dan umat.

Hadiahkanlah buku bermutu bagi pribadi Anda atau orang-orang yang Anda sayangi.

* * *

Informasi dan pemesanan hubungi:

Penerbit Madina Adipustaka

Telepon : (021) 87705740

SMS Center : 0858 14 MADINA (623462).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s