Syarat yang Tidak Boleh Dipenuhi Menjelang Akad Nikah

Syarat yang tidak boleh dipenuhi menjelang akad nikah yaitu, syarat-syarat yang bertentangan dengan maksud dan tujuan akad nikah, berseberangan hukum, dan bertolak belakang dengan aturan syariat.

Syarat-syarat ini tidak sah dan tidak boleh diajukan dalam akad nikah. Misalnya, syarat yang diajukan oleh seorang istri kepada suaminya agar ia menceraikan istrinya yang lain. Tidak bolehnya mengajukan dan menetapkan syarat seperti itu adalah karena Rasulullah saw. telah bersabda,

“Seorang wanita tidak boleh meminta calon suaminya menceraikan istrinya yang lain hanya untuk menggantikan posisinya. Ia hanya berhak memiliki apa yang menjadi haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh lain yang termasuk syarat yang tidak dibolehkan diajukan oleh seorang calon istri kepada calon suaminya adalah agar setelah menikah keduanya tidak melakukan persetubuhan.

Berdasarkan ijmak ulama, syarat seperti ini tidak boleh diajukan dan dipenuhi.

Contoh lain lagi yang termasuk syarat yang diharamkan adalah syarat-syarat yang yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan Sunnah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah saw.,

“Syarat apa pun yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an, maka syarat tersebut batal, meskipun syarat itu berjumlah seratus.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Persyaratan-persyaratan seperti ini tidak sah menurut kesepakatan ulama.

Bila demikian, bagaimanakah hukum akad nikah yang di dalamnya terdapat syarat-syarat yang terlarang tersebut?

Sebagian ulama berpendapat, bahwa akad nikah tersebut batal. Beberapa ulama lain berpendapat, apabila persyaratan itu tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pernikahan—seperti syarat agar calon suami menceraikan istrinya yang pertama setelah menikah, atau syarat agar ia tidak disetubuhi, dan sebagainya—maka akad nikah tersebut tidak sah.

Adapun bila persyaratan itu tidak bertentangan dengan tujuan akad nikah, tetapi persyaratan itu diharamkan, maka syarat tersebut batal, tetapi akad nikahnya tetap sah.

Pendapat terakhir ini adalah pendapat dari para ulama mazhab Syafi’iyah dan Hambali. Pendapat ini pula yang menurut saya lebih lebih kuat dari sisi dalil-dalilnya. Wallahu a’lam.

* * *

Dikutip dari buku Fiqih Sunnah Wanita

Karya Ust. Abu Malik Kamal ibnu asy-Sayyid Salim

Penerbit Madina Adipustaka

* * *

Jadilah muslimah sejati yang bukan saja sholehah tetapi juga memancarkan keimanan dan menjadi mutiara ilmu bagi keluarga dan umat. Hadiahkanlah buku bermutu bagi pribadi Anda atau orang-orang yang Anda sayangi.
fiqih sunnah wanita penerbit madina

Informasi dan pemesanan hubungi toko-toko buku dan distributor kami di kota Anda atau hubungi

Penerbit Madina Adipustaka

Telepon : (021) 87705740

SMS Center : 0858 14 MADINA (623462).

Find us on Facebook : www.facebook.com/madinaadipustaka

Follou us on Twitter : @penerbit_madina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s