Bid’ah Haqiqiyah dan Bid’ah Idhafiyah

Secara garis besar, bid’ah dibagi menjadi dua. Bid’ah haqiqiyah dan bid’ah idhafiyah. Imam Syathibi menjelaskan dua macam bid’ah ini. Ia mengatakan,

“Sesungguhnya bid’ah haqiqiyah adalah bid’ah yang tidak ada dalil syara’nya, baik dari Kitabullah, Sunnah, ijma’, qiyas, maupun istidlal yang dijadikan dasar oleh para ulama, baik secara global maupun terperinci. Karena itulah, dia dikatakan bid’ah, sebagaimana yang telah disebutkan, karena dia adalah sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya.”[1]

Contoh bid’ah haqiqiyah adalah paham qadariyah, tahsin dan taqbih berdasarkan akal murni, mengingkari hadits ahad, mengingkari ijma’, mengingkari pengharaman khamar, paham imam maksum (Syiah), dan sejenisnya.

Tentang bid’ah idhafiyah, Imam Syathibi menjelaskan,

“Adapun bid’ah idhafiyah adalah bid’ah yang memiliki dua sisi. Satu sisi, dia memiliki dalil. Dilihat dari sini, dia tidak termasuk bid’ah. Sisi yang lain, dia tidak memiliki dalil kecuali seperti apa yang dialami bid’ah haqiqiyah (tidak ada dalilnya). Inilah yang disebut dengan bid’ah idhafiyah. Dengan kata lain, dipandang dari satu segi, dia tergolong Sunnah karena bersandar kepada suatu dalil. Dan dipandang dari segi yang lain, dia tergolong bid’ah, karena dia bersandar kepada syubhat, bukan kepada dalil atau tidak bersandar kepada sesuatu apapun.”[2]

Contoh-Contoh Bid’ah Idhafiyah

1. Shalat Raghaib dan Shalat Nisfu Sya’ban.

Shalat Raghaib adalah shalat dua belas rakaat yang dilakukan antara waktu Magrib dan Isya pada malam Jumat pertama bulan Rajab. Dilihat dari satu segi, shalat ini tidak bid’ah shalat adalah perbuatan yang baik yang ada dasarnya. Dilihat dari sisi yang lain, yakni penentuan waktu dan caranya dia termasuk bid’ah penentuan waktu dan cara shalat ini tidak ada dasarnya.

Imam Nawawi mengatakan dalam al-Majmu’ (4/56),

اَلصَّلاَةُ الْمَعْرُوْفَةُ بِصَلاَةِ الرَّغَائِبِ وَهِيَ ثِنْتَى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّي بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمْعَةَ فِي رَجَبَ وَصَلاَةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةَ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلاَتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيْحَتَانِ وَلاَ يَغْتَرْ بِذِكْرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوْتِ الْقُلُوْبِ وَاِحْيَاءِ عُلُوْمِ الدِّيْنِ وَلاَ بِالْحَدِيْثِ الْمَذْكُوْرِ فِيْهِمَا فَاِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ

Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib, yaitu shalat dua belas rakaat yang dilaksanakan antara shalat Maghrib dan shalat Isya pada malam pertama bulan Rajab dan shalat malam Nisfu Sya’ban dengan seratus rakaat, dua shalat ini bid’ah dan mungkar yang buruk. Janganlah seseorang tertipu karena kedua shalat ini disebutkan dalam kitab Quth al-Qulub (karya Abu Thalib Makki) dan kitab Ihya Ulumiddin (karya al-Ghazali) dan jangan tertipu dengan hadits yang tersebut dalam dua kitab tadi. Sesungguhnya semua itu batil.”

2. Membaca shalawat sebelum dan sesudah adzan.

Membaca shalawat adalah perbuatan Sunnah karena ada dalilnya dari Al-Qur`an dan hadits. Namun, dilihat dari segi pelaksanaannya sebelum adzan dan sesudah adzan dengan suara keras termasuk bid’ah idhafiyah. Syaikh Ibnu Hajar mengatakan dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra (1/473),

وَلَقَدْ اُسْتُفْتِيَ مَشَايِخُنَا وَغَيْرُهُمْ فِي الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْأَذَانِ عَلَى الْكَيْفِيَّةِ الَّتِي يَفْعَلُهَا الْمُؤَذِّنُونَ فَأَفْتَوْا بِأَنَّ الْأَصْلَ سُنَّةٌ وَالْكَيْفِيَّةُ بِدْعَةٌ وَهُوَ ظَاهِرٌ كَمَا عُلِمَ مِمَّا قَرَّرْته مِنْ الْأَحَادِيثِ

“Para syaikh kita dan lainnya telah ditanya tentang shalawat dan salam atas Nabi setelah adzan dengan kaifiyah yang dilakukan pada muadzin. Mereka memberikan fatwa bahwa hukum asalnya sunnah dan kaifiyahnya bid’ah. Hal ini adalah jelas sebagaimana yang telah saya tetapkan dalam menjelaskan hadits-hadits.”

3. Menambahi bacaan shalawat dalam dzikir bersin.

Dzikir yang disunnahkan ketika seseorang mengalami bersin adalah membaca hamdalah. Namun, apabila dzikir ini ditambahi shalawat dan salam, termasuk bid’ah idhafiyah, sebagaimana yang dihukumi Ibnu Umar ra. dan Imam Suyuthi. Imam Suyuthi mengatakan dalam al-Hawi li al-Fatawi (hlm. 373),

لِأَنَّ الْعُطَاسَ وَرَدِ فِيْهِ ذِكْرٌ يَخُصُّهُ فَالْعُدُوْلُ إِلَى غَيْرِهِ أَوِ الزِّيَادَةُ فِيْهِ عُدُوْلٌ عَنِ الْمَشْرُوْعِ وَزِيَادَةٌ عَلَيْهِ وَذَلِكَ بِدْعَةٌ وَمَذْمُوْمٌ فَلَمَّا كَانَ الْوَارِدُ فِي الْعُطَاسِ الْحَمْدُ فَقَطْ كَانَ ضَمُّ السَّلاَمِ إِلَيْهِ مِنَ الزِّيَادَةِ فِي الْأَذْكَارِ وَذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَى ذَمِّهِ وَقَدْ نَهَى الْفُقَهَاءُ عَنِ الصَّلاَةِ عَلَيْهِ عِنْدَ الذَّبْحِ لِأَنَّهُ زِيَادَةٌ عَلَى مَا وَرَدَ مِنَ التَّسْمِيَةِ

“Karena sesungguhnya bersin telah ada dzikirnya yang khusus. Maka berpindah darinya kepada yang lain atau menambahinya adalah pindah dari yang disyariatkan dan menambah-nambahinya. Hal ini merupakan bid’ah dan tercela. Karena di dalam bersin yang disyariatkan hanya membaca hamdalah, maka menambahinya dengan membaca salam kepada beliau adalah menambahi dzikir. Hal ini telah disepakati sebagai perbuatan yang tecela. Para ahli fiqih melarang penambahan shalawat ketika menyembelih karena menambahi apa yang telah disyariatkan berupa membaca basmalah.”

4. Adzan jenazah.

Dilihat dari satu segi adzan jenazah itu perbuatan yang baik karena dia adalah dzikir yang diperintahkan. Namun, dilihat dari segi penentuan waktu dan tempat, yakni dilakukan ketika akan memakamkan jenazah adalah bid’ah idhafiyah karena tidak ada dalilnya dan tidak pernah dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat. Syaikh Ibnu Hajar ketika ditanya tentang adzan dan iqamat jenazah mengatakan dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra (3/166),

هُوَ بِدْعَةٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ سُنَّةٌ عِنْدَ نُزُولِ الْقَبْرِ قِيَاسًا عَلَى نَدْبِهِمَا فِي الْمَوْلُودِ إلْحَاقًا لِخَاتِمَةِ الْأَمْرِ بِابْتِدَائِهِ فَلَمْ يُصِبْ وَأَيُّ جَامِعٍ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَمُجَرَّدُ أَنَّ ذَاكَ فِي الِابْتِدَاءِ وَهَذَا فِي الِانْتِهَاءِ لَا يَقْتَضِي لُحُوقَهُ بِهِ

“Adzan dan iqamah saat pemakaman adalah bid’ah. Barangsiapa yang menyangka bahwa adzan dan iqamah itu sunnah saat pemakaman karena diqiyaskan dengan sunnahnya adzan dan iqamah terhadap bayi yang baru lahir karena masuk ke kubur itu akhir kehidupan dan keluarnya bayi dari ibunya itu awal kehidupan bukanlah orang yang benar. Apa yang menyamakan antara keduanya? Sesungguhnya hanya sekadar itu awal dan ini akhir tidak harus memiliki persamaan (tidak menjadi alasan qiyas).”

Demikian penjelasan mengenai bid’ah haqiqiyah dan bid’ah idhafiyah beserta contoh-contohnya. (M. Abidun Zuhri)

http://abidun.com/bidah-haqiqiyah-dan-bidah-idhafiyah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s